Bahagia Itu Tanpa Ikatan; Tak Perlu Harta Untuk Tertawa Dan Tak Perlu Jabatan Untuk Terhormat..

Bahagia itu tanpa ikatan, tak perlu memiliki banyak uang atau memiliki pangkat dan kehormatan tertentu untuk merasa bahagia. Bahagia itu juga tidak terikat oleh waktu, usia dan seperti apa bentuk fisik dan rupanya kita.


Bahagia itu tanpa ikatan dan syarat dimana semua orang berhak bahagia, tertawa, dan bisa menikmati hidup dengan baik. Bahagia hanya perlu bersyukur dan menerima ketentuan hidup yang telah ditetapkan Tuhan, serta hidup yang baik dan benar.


Bahagia Itu Tidak Terikat Dengan Kekayaan. Karena, Jika Terikat Harta Maka Bahagia Itu Hanya Miliknya Orang Kaya


Kebahagian yang sesungguhnya itu tidak terikat sama kekayaan, buktinya jika bahagia itu diukur dari kekayaan yang dimiliki sudah pasti bahagia itu hanya miliknya oraang kaya saja. Bahagia itu milik semuanya orang, milik si kaya, si miskin, si sempurna, si cacat dan semua mahluk yang hidup di dunia ini tanpa pengecualian.


Bahagia Dan Terhormat Juga Tidak Terikat Oleh Pangkat, Karena Jika Terikat Oleh Pangkat Maka Sudah Pasti Bahagia Dan Terhormat Miliknya Orang Yang Berpangkat


Untuk hidup bahagia dan terhormat juga tidak perlu memiliki pangkat apaun, tidak perlu status sosial, tidak perlu kekayan berlimpah hanya karena ingin hidup bahagia.


Karena simiskin dengan hati yang bijak juga bisa disegani oleh semua orang. Terhormatnya seseorang dan bahagianya seseorang bukan karena apa yang dimiliki dan apa yang ada pada dirinya, tapi karena kebesaran hatinyalah.


Untuk Itu Berbahagialah Kamu, Karena Bahagia Itu Tanpa Syarat. Tak Perlu Harta Untuk Tertawa, Tak Perlu Jabatan Untuk Kehormatan


Karena sebab itulah berbahagialah kamu, kenapa membayangkan bahwa sikaya raya dan pangkatnya yang tinggi itu sangat bahagia? Kau tidak pernah tau jika nyatanya kebahagian yang dirasakan sikaya, dan siberpangkat tinggi sama saja alias setara dengan kebahagian yang kamu miliki. Hanya saja kelihatannya mereka bahagi jauh melebihi dirimu gara-garanya kamu menilai kebahagiaan itu diukur dari kekayaan.


Semua Orang Sama Di Mata Tuhannya, Saat Lahir Kita Tak Punya Apa-Apa, Dan Saat Kembali Akan Meninggalkan Semuanya


Di hadapan Tuhan semua mahluk ciptannya itu sama, ketika lahir semua orang di lahirkan dengan tidak memiliki apa-apa dan ketika mati juga tidak akan membawa apa-apa. Kekayaan yang kita miliki saat ini tidak menjamin apa-apa di hadapan Tuhan. Hanya dimata negara (baca: di dunia) saja yang bisa dijadikan jaminan buat investasi atau pinjaman uang :v


Jangan Malu Jika Tidak Memiliki Apa-Apa Karena Bahagia Tidak Diukur Dari Apa Yang Kamu Punya


Kenapa malu dan merasa berbeda hanya karena tidak sama dengan si kaya dan si berpangkat? Sama-sama bisa diberi kesempatan hidup berarti kita sama-sama diberi kesempaatan untuk hidup berbahagia. Bahagia dengan segala apa yang kita miliki dan merasa cukup atas pencapaiyang yang telah kita dapatkan, karena bahagia itu tidak diukur dari apa yang kita punya[duapah]

sumber : panduanislamii.blogspot.com

Demi Bisa Belajar, Bocah ini Rela Membaca di Bawah Penerangan Lampu Jalan

membaca di bawah penerangan lampu jalan

Sebagian besar orang akan selalu fokus pada dirinya sendiri, melihat berbagai masalahnya saja dan tidak pernah memperhatikan berbagai hal di sekitarnya. Inilah yang sering kita lakukan, sehingga tak jarang kita akan selalu merasa kekurangan dan tidak pernah merasa nyaman dengan kehidupan yang kita miliki sekarang. Intinya hanya satu, kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, bahkan meski itu lebih dari pada cukup untuk semua kebutuhan kita.

Di luar sana, ada banyak sekali orang yang selalu sibuk mengeluh dan mengasihani dirinya sendiri dengan membenarkan berbagai keluhannya tersebut. Mereka selalu berkutat pada berbagai urusan pribadi mereka, dan melupakan orang-orang di sekitarnya, bahkan sangat besar kemungkinan jika orang seperti ini tidak memiliki waktu untuk sekedar menikmati apa yang telah mereka miliki saat ini. Apakah kita termasuk salah satu di dalamnya?

Mensyukuri apa yang kita miliki

Beberapa waktu yang lalu, Brian seorang pria Filipina menggungkapkan pengalamannya melalui halaman Facebook miliknya, di mana ia bertemu dengan seorang bocah yang sedang asyik belajar di bawah penerangan lampu jalan. Kejadian tersebut dialaminya saat ia sedang menuju Romadiyas di Calinan, kota Davao, ia sangat terkesan saat melihat bocah kecil tersebut belajar dengan tekun di bawah lampu jalan.

Menurut penuturan pria tersebut lewat Facebooknya, bocah itu terpaksa belajar di pinggir jalan karena rumahnya tidak dialiri listrik. Keluarganya begitu miskin, hingga tak sanggup mengakses layanan listrik di rumah mereka tersebut. Belajar di pinggir jalan menjadi satu-satunya pilihan untuk bocah malang itu, sebab di rumah ia tak dapat melakukannya dengan nyaman karena tak ada penerangan yang memadai di sana.

Tidak ada keluhan atas kekurangan dan ketidaknyamanan yang dihadapinya sepanjang malam ketika belajar, bocah yang kini duduk di bangku kelas 2 tersebut tetap bersemangat untuk belajar, meskipun belajar di pinggir jalan. Ia menginginkan sebuah perubahan dan juga kehidupan yang jauh lebih baik untuknya dan juga keluarganya di masa yang akan datang, sehingga ia belajar dengan sangat keras sejak sekarang. Sungguh, ini adalah mental pejuang yang sebenarnya, yang seringkali tidak dimiliki lagi oleh banyak orang saat ini.

Hal ini tentu sebuah motivasi yang sangat baik bagi kita, di mana kita justru selalu bersikap sebaliknya. Kita seringkali mengeluhkan setiap hal yang tidak kita sukai, meskipun hal itu sebenarnya demi kebaikan kita juga. Kita tidak pernah mensyukuri apa yang telah kita miliki, bahkan meski hal tersebut lebih dari cukup untuk diri kita sendiri.

Berikan waktu untuk berbagai hal di sekitar kita

Berhentilah untuk selalu mengasihani diri sendiri dan mengeluh sepanjang waktu. Di luar sana, ada banyak sekali orang yang tidak seberuntung kita, bahkan berbagai masalah selalu menaungi mereka sepanjang waktu, namun mereka tetap menjalani kehidupan mereka dengan bersemangat dan tersenyum bahagia.

 Jangan hanya fokus pada diri sendiri dan mengabaikan berbagai hal lain di sekitar kita, sebab di sana banyak pelajaran yang berguna dan juga pengalaman yang bisa kita petik. Melihat berbagai hal lain di luar kehidupan kita, akan membuat kita bersyukur dan bisa menjalani kehidupan dengan “normal”. Artinya, kita akan menikmati apa yang kita miliki saat ini, bahagia dan selalu merasa tenang dalam menjalani hari-hari, itulah makna kehidupan yang sesungguhnya.

Itulah cerita tentang seorang bocah yang rela membaca di bawah penerangan lampu jalan, kisah ini benar benar menyentuh. bagaimana seorang bocah yang dirumahnya tidak dialiri listrik akan tetapi dia tidak menyerah, bahkan dengan semangat dia belajar dibawah penerangan lampu jalan. semoga kisah ini bermanfaat ..

Sumber : http://www.sipolos.com